3 Tahun itu Adalah Cinta

Ku sebut saja 3 tahun itu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan atas tumbuh kembang mu
Keceriaanmu
Kesehatanmu

Ku sebut saja 3 tahun itu adalah pembelajaran
Pembelajaran menjadi kuat bersama-sama denganmu
Belajar rendah hati atas izinNya untuk hidup ceriamu
Belajar bersyukur atas setiap kemajuan tumbuh kembangmu

img-20160921-wa0027
3 tahun..
Cepet yah…
Hari ini Rasikha udah pintar bernyanyi, pintar bercerita, pintar bermain
Sekaligus juga suka nangis, tantrum gak jelas, suka manja kelewatan yang dibuat2

Sadaaaar banget..
Belum mampu jadi Ibu yang luar biasa buat Rasikha
Sesekali juga belum bisa menjadi orang pertama yang tahu perkembangan2 barunya
Karena masih harus meninggalkan Rasikha sebagai working mom
Iri?
Ya manalah mungkin gak iri sama Ibu lain yang bisa full time menjadi pendidik anak2nya..
Tapi.. pilihan ya tetap pilihan..
Dan ini pilihan bersama yang semoga tetap berkah
img-20160921-wa0029

 Diusia ini..
Rasikha dekaaaaaaat sekali dengan Papa-nya
Ciyuss.. dekaaaaaaat sekali
Iri?
Ya manalah mungkin gak iri saat Rasikha lebih memilih Papanya di banding Ibu yang melahirkannya..
Tapi.. cinta tetaplah cinta
Cinta ku tetap utuh untuk Rasikha dan semoga kelak Rasikha bisa pahami

img-20160921-wa0015

Apa yang paling istimewa di tahun ke-3 atas tumbuh kembang Rasikha?
Alhamdulillah..
Rasikha akhirnya berhenti minum obat anti kejang di usia 2,5 tahun..
Segala puji bagi-Mu yang Maha Penjaga
Kalau dulu, Rasikha begitu terbiasa minum obat setiap malam
Hari ini, Alhamdulillah, Rasikha terbiasa minum madu 🙂

Maka..
Ku sebut saja 3 tahun itu adalah seikat cinta
Cinta dari kami, cinta dari seluruh keluarga dan teman2
Cinta berwujud waktu, tenaga, pikiran, dan doa
Iya.. doa2 yang mungkin tak pernah kami dengar..
Entah dari siapa saja..
Yang menyayangi Rasikha

Dan..
Terima kasih Nak..
3 tahun hadirmu genapi kebahagiaan kami
Teruslah bertumbuh dengan bahagia 🙂

#Latepost

img-20160922-wa0012

Advertisements
Posted in Kids and Family | Leave a comment

Rasikha: Cahaya Mata Kami

Senyuman itu menyenangkan aku..
-Padi: Cahaya Mata-

img-20160921-wa0012

Iya.. Rasikha memang cahaya mata kami..

Usianya tepat 2 tahun hari ini..
Alhamdulillah..
Setahun belakangan banyak sekali progress tumbuh kembangnya..

Rasikha memang punya energi besar sehingga suka banget melakukan aktivitas fisik. Lari sana lari sini. Ngoprek sana ngoprek sini. Naik sana naik sini. Hihi..

Seperti namanya, dan benarlah bahwa nama adalah doa, Rasikha bertumbuh menjadi anak yang kuat.

Serius deh.. Rasikha kuat..
Ngangkat berdiri kasur, mindahin mainan2 yang lebih gede dari badannya, ngangkat koper (kosong) walaupun cuma keangkat sebentar, jatuh terluka bangun lagi, kejedot benjol nangis sebentar main lagi, dan masih panjang listnya.. bisa panjang banget kalo ditulis semuanya.. hehe..

Dan serius deh.. Rasikha kuat..
Kuat melewati 6 bulan pertama terberatnya, yang kini menjadi puzzle2 kisah hidupnya yang selalu kami syukuri..

Dan serius deh.. Rasikha kuat..
Kuat banget sama apa yang menjadi fokusnya, keinginannya. Gak mudah dialihkan. Perlu ekstra energi untuk mengalihkannya.
Karakter ini, semoga kelak apapun yang menjadi cita2mu yang baik, selalu kau upayakan sepenuhnya dengan cara2 yang baik ya Nak..

Teriring doa dari kami yang selalu menyayangimu,
Bertumbuhlah dengan bahagia..
Berkembanglah dengan cinta..
Berkaryalah dengan nama-Nya..

img-20160922-wa0011

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Rasikha dan Perkembangannya

Maka, nikmat Allah manakah yang dapat kamu dustakan?

img-20160921-wa0005

Berbagi cerita, berbagi bahagia ah..

Jumat lalu kami membawa Rasikha ke Klinik Tumbuh Kembang (KTK) RS Harapan Kita. Kami bertemu dengan Dr. Lucy, DSA yang juga kepala KTK, sekaligus juga dokter yg dulu 1 tim perineonatal bersama beberapa dokter lain yang merawat Rasikha selama 8 minggu di awal kelahirannya.

Awal pemeriksaan di KTK, dr. Lucy membaca buku status medis Rasikha, lalu menjelaskan, ‘Rasikha dulu pernah infeksi jamur sampai ke otak ya Bu. Dan melihat catatan bahwa Rasikha minum obat anti kejang sejak usia 6 minggu sampai sekarang, maka Rasikha beresiko terlambat berat perkembangannya’.

Rasikha masih tidur nyenyak di gendongan saat dr. Lucy menjelaskan. Sedih banget mendengar penjelasan dr. Lucy itu.

‘Berapa usia Rasikha sekarang?’, tanya dr. Lucy, yang langsung kami jawab bahwa usia Rasikha 7 bulan 20 hari (sekitar 34 minggu).

‘Oke. Rasikha lahir di usia kandungan 29 minggu ya Bu. Sebentar saya hitung usia koreksinya ya Bu. Usia normal kandungan cukup umur adalah 40 minggu. Maka Usia koreksi Rasikha sekarang adalah 34 minggu – (40 minggu – 29 minggu), yaitu sekitar 23 minggu atau 5 bulan’.

Setelah itu dr. Lucy menyampaikan beberapa pertanyaan lagi terkait kemampuan motorik dan sosial Rasikha.

Merasa telah mendapatkan gambaran tentang kondisi Rasikha, dr. Lucy kemudian meminta membangunkan Rasikha dan merebahkannya di kasur. Rasikha yang sudah puas tidur, Alhamdulillah, sudah nyaman untuk diajak bermain.

Dr. Lucy menyapa Rasikha, ‘Hai, sudah besar ya kamu. Wah.. senyumnya cantik. Pasti sering diajak ngobrol ya kamu Dek’. Ahai.. ternyata bayi yang sering diajak ngobrol bisa terlihat ya. Padahal kami tidak memberi informasi itu kepada dr. Lucy sebelumnya.

Dr. Lucy melanjutkan mengobservasi Rasikha. ‘Wah.. hebat ya kamu Dek.. sudah pintar kemut jempol kaki.. Duuuh… main jempol terus deh.. pamer nih yaaa’. Saat bilang begitu, dr. Lucy nampak kaget sekali. Beliau tidak menyangka bahwa perkembangan Rasikha sudah sejauh ini.

Dr. Lucy lalu melanjutkan observasinya dengan meminta Rasikha bermain di lantai empuk untuk melihat kemampuan menggenggam, tengkurep, dan respon sosial Rasikha.

Setelah sekitar 20 menit mengobservasi Rasikha, dr. Lucy menyampaikan bahwa perkembangan motorik dan sosial Rasikha ternyata baik. Tidak tertinggal dari bayi seusianya (usia koreksi tentu saja). Malah bisa dibilang sangat baik, mengingat Rasikha punya faktor resiko perkembangan terlambat berat. Hanya sedikit saja yang harus distimulasi dan lebih sering dilatih, yaitu melipat lutut dan pahanya, agar Rasikha punya skill dasar untuk mulai belajar mengangkat pantatnya saat tengkurep, karena ini skill dasar untuk kemampuan motorik berikutnya, yaitu merangkak dan duduk.

Alhamdulillah. Rasanya bahagia sekali mendengar penjelasan dr. Lucy. Terima kasih ya Rabb. Semoga Engkau berkenan untuk terus menjaga Rasikha.

img-20160921-wa0006

 

Posted in Kids and Family | Tagged , , , | Leave a comment

Rasikha, Steril atau Imun?

Berbeda dengan kebanyakan bayi lain, Rasikha tidak divaksinasi ketika lahir. Betul. Karena syarat vaksinasi harus dilakukan pada bayi sehat dan cukup berat. Vaksinasi pertama Rasikha adalah di usia 2,5 bulan ketika beratnya sekitar 2,5 kg.

Kali pertama dan kedua Rasikha vaksinasi, saya hanya mengikuti saran DSA aja. Tapi selanjutnya, kami memutuskan sendiri bahwa kami memang perlu memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Pro dan kontra seputar vaksinasi terus berkembang. Tidak hanya di dunia, tapi juga di Indonesia. Namun setelah saya mereview beberapa bahan bacaan, saya menyimpulkan bahwa informasi seputar kontra vaksinasi memiliki tendensi untuk penjualan obat dan atau pengobatan alternatif, namun dengan cara mengkampanyekan anti vaksinasi melalui penyebaran tulisan yang: 1) bias karena hanya diambil sebagian dari sumber publikasi sebenarnya, 2) salah pengalihbahasaannya dari sumber publikasi sebenarnya, 3) pembohongan publik karena mencantumkan quote dari nama ahli yang fiktif, 4) mempersoalkan keharaman vaksin.

Mudah sekali mencari tulisan2 kontra imunisasi. Sehingga pada awalnya, saya pun ragu untuk melanjutkan vaksinasi Rasikha. Namun syukurlah, saya bertemu dengan tulisan-tulisan terpercaya yang gak hanya copy paste aja, dan tanpa tendensi apapun kecuali mengupayakan memberi yang terbaik untuk anaknya dan untuk anak Indonesia.

Berikut beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  1. Fungsi vaksinasi adalah memasukkan virus atau bakteri (kuman) yang dilemahkan ke dalam tubuh agar tubuh mengenali data kuman tersebut lalu membangun sistem perlawanan berupa antibodi yang siap mengenali dan melawan kuman serupa di kemudian hari. Jadi, vaksinasi menjadi semacam training atau sarana berlatih bagi tubuh untuk melawan kuman serupa yang sebenarnya (bukan kuman yang dilemahkan).
  2. Vaksi
  3. nasi adalah imunisasi yang disengaja. Tanpa vaksinasi pun, tubuh memang dapat membangun sistem perlawanan. Yaitu ketika terkena serangan kuman yang sebenarnya. Jika tubuh berhasil membangun sistem perlawanan dengan membentuk antibodi, maka itulah imunisasi alamiah. Bedanya, resiko menjadi lebih tinggi, beban perlawanan menjadi lebih berat, karena tubuh berhadapan langsung dengan kuman berkekuatan sebenarnya.
  4. Dengan vaksinasi, bukan berarti tidak akan terjangkit penyakit, namun resiko atas terjangkitnya penyakit menjadi jauh lebih ringan.
  5. Kegagalan vaksinasi benar dapat terjadi, namun data statistik menunjukkan bahwa angka kegagalan sangat sedikit, jauh sekali dibandingkan dengan jumlah individu yang terjaga oleh vaksinasi.
  6. Vaksinasi + gaya hidup sehat saling melengkapi. Tapi gaya hidup sehat tidak bisa menggantikan fungsi vaksinasi sebagaimana pada butir 1.
  7. Benar bahwa seseorang bisa tetap tidak terinfeksi kuman walaupun tidak divaksinasi, tapi hal itu bukan hanya dipengaruhi oleh kekebalan tubuhnya sendiri, namun juga dipengaruhi oleh herd immunity atau imunitas komunitas. Herd immunity adalah imunitas yang terbentuk saat sebagian besar individu pada suatu komunitas telah divaksinasi sehingga memberikan perlindungan bagi individu yang tidak divaksinasi di komunitas itu. Googling deh soal herd immunity ini.
  8. Urusan halal dan haram karena proses produksi vaksin tertentu masih menggunakan bahan yang haram juga selalu menjadi perdebatan panjang.Berikut informasi yang saya dapatkan. Menurut fatwa MUI, vaksinasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, untuk mencegah terjadinya penyakit. Penggunaan vaksin yang mengandung atau bersinggungan dengan unsur yang diharamkan, maka hukumnya haram. Tetapi, keharamannya bukan pada tindakan vaksinasi, namun karena proses pembuatan atau kandungan vaksinnya. Dalam hal tidak atau belum ditemukannya vaksin yang halal, vaksin yang haram menjadi boleh untuk kebutuhan mendesak atau selama vaksin yang halal belum tersedia.

Ramainya pro dan kontra vaksinasi tidak membuat saya mengagungkan vaksinasi, karena memang vaksinasi tetap mempunyai manfaat dan bahaya (dengan tingkat bahaya individu yang relatif sangat kecil). Namun sungguh sangat disayangkan jika karena informasi yang sangat meyakinkan namun nggak valid, banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anak2nya.

Saya bukan dokter, bukan juga yang sungguh paham soal agama, tapi dengan mengumpulkan informasi dan menimbang manfaat dan bahaya vaksinasi, maka saya memutuskan untuk memberikan vaksinasi bagi anak2 saya. Setidaknya, begitulah upaya saya sebelum mengambil keputusan.

Ya, semakin banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anaknya, maka semakin penting bagi saya memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Jadi, memilih steril atau imun? Saya jelas memilih imun, karena kondisi tidak selalu ideal.

Beberapa bahan bacaan seputar vaksinasi yang menarik:

21 Februari 2013

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , | Leave a comment

Rasikha, NICU, dan Harapan Kita

Melalui masa perawatan di NICU dan post NICU di RS Harapan Kita selama sekitar 8 minggu, saya dan suami sungguh terkesan karena perawat2 yang menangani bayi2 di NICU sangat profesional dan ramah.

Bayi2 yang dirawat di sana beragam masalahnya dan masa rawatnya. Beragam pula orangtuanya. Maksud saya, kemampuan finansial orang tuanya.

Membaca dan mendengar pemberitaan tentang seorang bayi prematur yang meninggal karena ‘ditolak’ oleh beberapa rumah sakit , mengingatkan saya pada masa2 ketika kami mengupayakan agar Rasikha bisa mendapatkan tempat perawatan.

Awalnya, saya yang seharusnya diinfus air ketuban, ternyata malah kontraksi, sehingga harus diinfus obat anti kontraksi. Namun kontraksi lebih kuat dari pada obat anti kontraksinya, sehingga dalam beberapa jam saja saya sudah bukaan lengkap. Mendapati kondisi saya yang seperti itu, dokter bilang bahwa bayi saya harus dilahirkan, namun kita harus mencari NICU (Neonatal Intensive Care Unit). NICU adalah suatu ruang perawatan intensif di rumah sakit yang  difungsikan untuk merawat bayi prematur dan bayi baru lahir sampai berusia 30 hari yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus di bawah pantauan tim dokter untuk mencegah dan mengobati kegagalan organ-organ vital bayi.

Rumah sakit tempat saya infus itu adalah rumah sakit sederhana, sehingga tidak mempunyai unit NICU. Sekitar 3 jam lebih tim dokter dan suster di rumah sakit sederhana itu menelepon secara random rumah sakit besar yang mempunyai unit NICU.

Rumah sakit yang mempunyai NICU memang sedikit dan jumlah unitnya pun sedikit. Dari yang sedikit itu, masih dibagi lagi bagi bayi yang memang dilahirkan di RS itu dan bagi bayi rujukan. Bahkan hanya telat sedikit waktu saja, rumah sakit yang sudah menyatakan bahwa masih memiliki 1 unit NICU, ketika dikonfirmasi 10 menit kemudian ternyata sudah terbooking oleh pasien yang baru saja datang. Begitu sulitnya kami mencari, sampai akhirnya, alhamdulillah, RS Bunda Margonda konfirm masih memiliki NICU bagi bayi kami yang akan lahir.

Persiapan merujuk saya untuk melahirkan di RS Bunda Margonda pun dilakukan. Alhamdulillah, setelah proses melahirkan Rasikha di usia kandungan 29 minggu, Rasikha langsung ditempatkan di NICU, bahkan tanpa sempat  saya lihat dan saya sentuh. Kenapa? Karena tim dokter mengupayakan seminimal mungkin Rasikha kontak dengan lingkungan karena bayi prematur sangat rentan terinfeksi. Namun Alhamdulillah, tim dokter tetap memberikan kesempatan kepada Rasikha untuk mendapatkan haknya, yaitu diadzankan oleh Papanya.

Setelah 2 hari dirawat di NICU Bunda Margonda, beruntung Rasikha bisa mendapatkan tempat di NICU RS Harapan Kita melalui proses rujukan, sehingga kami tidak terlalu terbebani oleh besarnya biaya perawatan berminggu-minggu karena ditanggung oleh asuransi.

Selama menemani Rasikha di RS Harapan Kita selama 8 minggu itulah, saya berteman dengan ibu2 sesama bayi prematur. Kami berbagi cerita, berbagi semangat, berbagi kekuatan.

Ada Ibu yang bayinya hanya membutuhkan perawatan selama 2 minggu karena lahir di usia kandungan 8 bulan, ada juga ibu yang bayinya harus mengalami masa perawatan yang lebih lama dari Rasikha karena lahir di usia kandungan 6 bulan dengan berat hanya 700 gram. 

Selama masa berbagi itulah, saya mendapatkan informasi bahwa Harapan Kita tidak hanya melayani pasien yang mampu, tapi juga melayani pasien yang tidak mampu (perlu DP Rp. 15 juta untuk masuk NICU jika tanpa asuransi, perlu DP Rp. 5 juta untuk masuk NICU dengan asuransi). Ada 1 ibu yang bahkan tidak mengeluarkan uang lebih dari Rp 200 ribu untuk perawatan bayinya di Harapan Kita yang kondisinya lebih parah dari Rasikha. Kenapa? Karena ibu itu menggunakan surat keterangan tidak mampu. Ibu itu memang perlu sedikit repot pada awalnya untuk mengurus segala keperluan administratif, tapi bayinya mendapatkan perawatan yang sama baiknya dengan bayi2 ibu lain yang membayar dari uangnya sendiri. Menurut ibu itu, Pemerintah menanggung biaya perawatan bayinya sampai maksimal Rp 100 juta.

Begitulah. Terlepas dari kontroversi kartu sehat, tapi saya kurang nyaman dengan pemberitaan yang menggunakan kata beberapa rumah sakit ‘menolak’. Dan terlepas dari persoalan ‘menolak’ ini, saya tetap terenyuh dan berempati saat menonton pemberitaan ini. Semoga di sana, tempatmu adalah yang terbaik ya Dek 🙂

19 Februari 2013

Catatan: 

Tulisan ini hanya bermaksud untuk berbagi pengalaman saja

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , | 2 Comments

Rasikha, Sehat Terus ya Sayang

‘Being parents surely make us love our parents more’.

Hampir 4 bulan sudah kami menikmati waktu bersama Rasikha di rumah, setelah 2 bulan sebelumnya terpisah. Alhamdulillah, sungguh hanya Allah yang Maha Penjaga, yang telah memberikan nikmat ini sehingga Rasikha dapat bertumbuh baik dan sehat, InsyaAllah.

(Gak) terasa, Rasikha sudah akan memulai makan pertamanya tanggal 14 Februari nanti, InsyaAllah. Kami semangaaat sekaliiii.

Jadi inget saat Rasikha pulang ke rumah di bulan Oktober lalu, ada 3 tantangan yang kami hadapi. 2 di antaranya adalah GER dan bodongan (DSA Rasikha menyebutnya dgn istilah Hernia).

GER menyebabkan Rasikha mudah muntah walaupun sudah lewat 1 jam dari saat minum susu. Untuk menghindari kemungkinan muntah, Rasikha harus tidur dengan posisi yang nggak datar. Ada masa2 ketika Rasikha sering kali muntah sampai keluar dari hidung, sehingga membuat saluran nafas di hidungnya tersumbat. Alhamdulillah, Allah Yang Tak Pernah Tidur selalu menjaga Rasikha. Betapa mengagumkannya melihat putri kecil kami berjuang untuk dapat menghirup nafas saat muntah mengganggu hidungnya. Subhanallah. Dan Neneknyalah yang selalu siaga untuk mengkondisikan Rasikha agar dapat lebih mudah dan lebih cepat bisa menghirup nafas dgn normal dan nyaman lagi. Alhamdulillah, seiring dengan semakin matang lambungnya, Rasikha hari ini sudah tidak lagi muntah.

Tantangan lainnya adalah bodongan Rasikha. Bodong Rasikha awalnya menonjol keluar sekali, kencang, dan warnanya semu pink. Menurut DSA Rasikha, itu karena ukuran usus Rasikha masih relatif kecil sehingga masih dapat masuk dan menekan bodong. Maka untuk membuatnya menjadi baik, kami harus menekan bodong Rasikha ke dalam. Kata DSA-nya, jika sampai usia 6 bulan tidak bisa baik maka harus dioperasi.

Awalnya kami begitu kesulitan menerapkan metode menekan bodong yg paling nyaman untuk Rasikha. Menggunakan uang koin yang dimasukkan ke dalam ikat pinggang dr kain, sesuai dengan saran sesepuh pun dicoba. Namun karena ukuran lingkar bodong Rasikha lebih besar dari pada uang koin, maka ikat pinggangnya justru bergeser sehingga uang koinnya malah menggesek bodong Rasikha. Metode pertama gagal.

Metode berikutnya adalah menggunakan plester sesuai saran suster di rumah sakit. Caranya, bodong Rasikha dilipat agar masuk ke dalam, lalu diplester. Tapi karena kulit Rasikha masih relatif tipis, maka yang terjadi justru hampir melukai kulit perut Rasikha yang diplester. Maka metode ini pun gagal juga.

Di saat kami bingung harus menggunakan metode apa lagi, Alhamdulillah, Allah memberikan jalan. Akhirnya kami dapat menemukan sebuah sabuk yang memang khusus didesain untuk bodong bayi (dijual di apotek melawai di depok). Bersyukur memilikimu Papa, yang gak pernah bosan menemani mencari. Dengan sabuk ini, dan dengan keuletan Nenek membantu merawat Rasikha, bodong Rasikha sudah baik hari ini. Alhamdulillah.

Begitulah, ketika sabar dan syukur selalu harus bersandingan. Betapa bahagia melihat Rasikha hari ini. Sudah mampu menatap kami, tertawa geli saat digoda dgn mimik2 wajah dan suara2 kami, ‘ngoceh’ mbuu atau nggeh, menyangga kepalanya, memasukkan tangan ke mulutnya, menghisap jarinya, dan memiringkan badannya untuk mencoba tengkurep.

Alhamdulillah, semoga kamu terus bertumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat ya Nak.

Betapa sungguh bersyukur memiliki orang2 luar biasa di sekitar kami, yang menguatkan kami. Kali ini, ingin sekali menuliskan ini untuk Nenek. Terima kasih Nenek, sudah membantu merawat Rasikha. Gak tahu apa jadinya kami tanpamu.

6 Februari 2013

– ditulis saat 3,5 jam di jalan dari kantor ke rumah. so what? 😀 –

Rasikha di usia 5 bulan

Rasikha di usia 5 bulan

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Rasikha: Selamat datang Sayang, di rumah yang penuh cinta

Rasikha 3,5 bulanNamanya Rasikha Wina Ramadhina. Putri mungilku yang terlahir prematur di usia kandungan 29 minggu, dengan berat 1,24 kg dan panjang 39 cm. Menjalani 2 bulan pertama hidupnya di rumah sakit semoga akan mengujinya menjadi anak yang kuat, insyaAllah. Begitulah harapan kami dengan memberinya nama itu, yang berarti Putri Wiko dan Ana yang kuat sebagai anugerah Ramadhan.

Selama 2 bulan, Rasikha melalui masa turun naik. Saat bilirubinnya tinggi sekali sehingga kami diminta untuk bersiap2 mencarikan donor untuk transfusi tukar (tapi Alhamdulillah hanya dengan terapi sinar, bilirubin Rasikha berhasil turun tanpa perlu transfusi tukar), saat apnea membuatnya lupa nafas sehingga harus dibantu nafas dengan mesin, saat tim perawat menyatakan Rasikha perlu menggunakan alat perekam otak untuk mengetahui tingkat kejangnya sehingga membuat rambutnya harus dicukur botak di tiga titik lingkaran kecil di kepalanya, saat Rasikha pertama kali diketahui GER (katup lambung yang belum sempurna sehingga asi mudah keluar lagi), atau saat berat badannya turun, dan bahkan saat Rasikha sudah hampir siap pulang tiba2 apnea lagi sehingga harus kembali ke NICU. Ah.. Kau tahu seperti apa perasaan kami di saat2 pertama kali mendengar fakta itu?
K.o.s.o.n.g.
Maka setelahnya yang bisa kami lakukan hanyalah berserah diri. Mencoba benar2 menyerahkan urusan Rasikha kepada-Nya, sambil membuat afirmasi2 positif. Beruntung mempunyai suami yang selalu mengingatkan bahwa berserah diri adalah salah satu cara terbaik, selain berharap dalam doa tentunya.

Tapi benarlah janji langit, selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Maka selama 2 bulan itu, setiap kali Rasikha turun selangkah, setidaknya selalu diikuti oleh perkembangan 2 langkah, atau bahkan 3 langkah. Alhamdulillah. Kau tahu seperti apa perasaan kami di saat2 itu?
S.y.u.k.u.r.
Karena hanya Allah-lah yang membuat segalanya menjadi mungkin. Dan harapan kami melambung lagi.

Setelah melewati masa2 perih melihat Rasikha yang tubuh mungilnya dipasangkan berbagai selang dan kabel, masa2 rindu karena Rasikha tidak ada di sisi selama 2 bulan, masa2 mengantar asi dan menjenguk Rasikha, masa2 menikmati metode KMC (Kangaroo Mother Care), masa2 belajar menyusui dan memberi minum Rasikha, maka datanglah kabar baik itu. Setelah 2 bulan kurang 3 hari, Rasikha sudah bisa pulang. Alhamdulillah.

Selamat datang Sayang, di rumahmu yang penuh cinta untukmu.

11 Oktober 2012

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , , , | Leave a comment