Raffa dan Tongue Tied

Maret 2016.

Adem sekali menatap wajahmu Nak.

collage-1

Mama bahagia sekali saat Suster mengantarmu pertama kali untuk room in.

‘Saya yang nangkep dari Dokter kok Bu waktu persalinan. Sempet difoto juga sama suster lain yg lagi hamil sebelum dibawa ke ruang baby karena berharap anaknya laki2 berdagu bolong kayak begini Bu’, jawab Suster yang kutanyakan kepastian si bayi ganteng ini memang lahir dari rahimku. Hihi..

Selang beberapa waktu, Suster mengajarkan bagaimana melakukan perlekatan untuk memberikan ASI. Bukan perkara mudah ternyata. Apalagi ini hal yang lama tapi baru bagiku karena Rasikha dulu tidak menikmati ASI dengan direct breastfeed.

Malam pertama sampai malam terakhir room in Raffa rajin menangis. Setiap diletakkan di baby box-nya menangis. Di-mimik-in kesel karena sepertinya belum bisa mimik anteng padahal sudah pintar mengisap. Sempat bertanya-tanya kenapa bayiku menangis terus padahal kolostrum sudah keluar.

Beberapa kali Suster Laktasi membantuku untuk melakukan perlekatan ke bayiku. Bayiku kenyot beberapa isap, lalu lepas lagi perlekatannya. Begitu berkali-kali.

Minggu pertama Raffa di rumah, Raffa sudah anteng mimiknya. Tapi ya begitu, mimik terus maunya. Sampai bingung apa iya ASI-ku gak mampu bikin Raffa kenyang. Kalau perlekatan lepas, Raffa bangun dan nangis. Sampai tiap malam harus begadang karena aku belum bisa mimik-in Raffa sambil tiduran.

Beberapa hari berikutnya, aku mulai galau. Kenapa kok Raffa mulai gak anteng dikasih mimik, meronta meraung keras, seperti menolak. Maunya nangis terus (baru belakangan kuketahui bahwa Raffa kehausan). Konsultasi melalui whatsapp dengan Ithoh, Kawan SMU yang adalah seorang dokter sekaligus Konselor Laktasi, dan juga dengan Wulan, sepupu ku, mengarah pada kemungkinan bayiku Tongue Tied, karena ciri-ciri nya mirip sekali:

  • Nipple Ibu lecet
  • Perlekatan lepas terus
  • Mimik dalam durasi yang sangat panjang, bisa berjam-jam (versiku dan Raffa, bisa 5 jam mimik-in)
  • Berat badan turun

Tapi aku masih keukeuh bahwa saat ini kami hanya perlu waktu untuk belajar. Iya.. aku dan Raffa sedang sama-sama belajar untuk menyusui-menyusu dengan baik. Jadi aku belum melaksanakan saran dari Ithoh dan Wulan. Toh, tali lidah Raffa kulihat normal-normal saja.

Puncaknya adalah saat pagi mau mandiin Raffa, ada bekas bercak kemerahan di popoknya. Panik dong, takut ‘sesuatunya’ ada yang luka.

pampers-raffa-27-maret-2016

Kami langsung ke dokter di RS tempat Raffa lahir. Dan kaget saat Raffa ditimbang ternyata beratnya turun 500 gram. Padahal normalnya berat bayi hanya turun 10% dari berat lahirnya. Dan harusnya di 2 minggu pertama, berat bayi sudah kembali ke berat lahirnya. Sedangkan usia Raffa saat itu sudah 2 minggu.

Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung bawa Raffa ke KMC, sesuai saran Ithoh dan Wulan yang selama ini memang kutunda-tunda.

Singkat cerita, setelah menunggu cukup lama karena panjangnya antrian, berhasillah kami bertemu dengan Dokter Asti Praborini, SpA, IBCLC, dokter spesialis anak yang juga dokter Laktasi, tanpa perjanjian. Alhamdulillah, sungguh dipermudah Allah.

Ternyata bercak darah di popok Raffa adalah indikasi bahwa Raffa dehidrasi. Kekurangan cairan karena ndak bisa mimik ASI secara baik. Hiks..

Setelah dokter menjelaskan banyak hal, jadilah Raffa diinsisi. Digunting tali lidah. Dan tali bibir atasnya. 😦

Beruntung Nenek menemani, sehingga aku cukup tegar melihat Raffa diinsisi.

collage-2

Iya, Raffa Tongue Tied dan Lip Tied. Grade 3. Jika dilihat sekilas memang tidak Nampak TT-nya.

‘Tapi jika di pencet, kelihatan deh tebal sekali TT-nya sehingga gak fleksibel’. Begitu kata Dokter.

Proses insisi berlangsung sangat cepat. Tanpa bius. Sekejap mata saja tahu2 tali lidah dan bibirnya sudah digunting. Terdengar Raffa menangis kencang sekali.. pasti sakit. Maafkan Mama Nak.. insyaAllah ini ikhtiar kita Nak. Ikhtiar agar Raffa bisa Mimik directly.

Darah yang keluar dari insisi disumbat dengan kapas dan secara sigap Suster memberikan Raffa ke gendongan ku untuk di-mimik-in. Raffa langsung mimik..tangisnya berhenti.. dan darahnya seketika juga berhenti. MasyaAllah.

med-20901-sns_framed

Untuk kejar berat badannya, Raffa harus disuplementasi dengan asi donor atau susu formula. Dengan dosis suplementasi yang diresepkan oleh dokter (dosis awalnya 60 ml x 5 kali sehari). Dan suplementasi itu dialirkan melalui selang, dengan Medela SNS namanya, Sumplementary Nursing System. Selang ditempelkan di nipple sehingga saat menyusu directly, Raffa mengisap sekaligus ASI ku dan susu dari SNS. Pun selama 10 hari harus melakukan senam lidah untuk melatih lidah Raffa mengisap lebih kuat.

Alhamdulillah setelah insisi Raffa mimik pintar sekali. Tidurnya nyenyak.

Jangan tanya bagaimana perasaan Mama yang harus menyusui dengan selang. Apalagi saat kunjungan ke RS, lalu beberapa Ibu melihat aneh dan berbisik-bisik. Hihi..

Awalnya, saya dan suami bersepakat karena beberapa pertimbangan, memilih susu formula sebagai suplementasi. Entahlah, walaupun sifatnya temporary, tapi rasanya lebih sulit untuk berbagi Raffa-ku dengan Ibu lain. Belum lagi soal riwayat kesehatan. Dan soal hukum muhrimnya kelak. Tapi baru saja 3 hari Raffa suplementasi dengan susu formula, Raffa batuk pilek parah dan demam juga. Setelah konsultasi ke dokter, ternyata Raffa gak cocok dengan susu formula, padahal susu formula yang kuberikan yang HA lho..

Jadilah akhirnya kuputuskan untuk menggunakan ASI donor. Alhamdulillah, begitu suplementasinya switching ke ASI donor, batuk pilek demam Raffa sembuh. Cepat sekali. Baiklah, Mama mengalah. Mama berdamai Raffa menggunakan ASI donor.

Begitulah. Alhamdulillah. Yang terpenting adalah Raffa ndak tersiksa karena dehidrasi. Dan mimpi Mama agar Raffa bisa mimik ASI-nya Mama dapat terwujud. Dan hari ini, di usiamu 6 bulang 1 minggu, Raffa masih mimik ASI-nya Mama walaupun dengan kondisi kejar tayang (hasil pumping hari ini untuk mimik Raffa besok). Mama bahagia sekali, karena bisa menikmati indahnya perasaan mendapati tatapan matamu Nak saat menyusui. Berkali-kali. Berkali-kali  :*

Maka akhirnya, izinkan aku mengucapkan terima kasih kepada Dokter Asti Praborini, SpA, IBCLC, dokter yang setiap minggu kutemui sejak Raffa insisi hingga suplementasi berhenti. Juga kepada Ithoh dan Wulan yang gak terhitung berapa kali aku bertanya banyak hal. Dan kepada suami dan keluarga atas dukungannya yang tak pernah putus. Terima kasih.

img-20160922-wa0016

Advertisements

About Febriana

Mama Rasikha. Ibu bekerja. Pemimpi. Pengejar impian. Selalu ingin menjadi rendah hati..
This entry was posted in Kids and Family and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s