Rasikha, Steril atau Imun?

Berbeda dengan kebanyakan bayi lain, Rasikha tidak divaksinasi ketika lahir. Betul. Karena syarat vaksinasi harus dilakukan pada bayi sehat dan cukup berat. Vaksinasi pertama Rasikha adalah di usia 2,5 bulan ketika beratnya sekitar 2,5 kg.

Kali pertama dan kedua Rasikha vaksinasi, saya hanya mengikuti saran DSA aja. Tapi selanjutnya, kami memutuskan sendiri bahwa kami memang perlu memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Pro dan kontra seputar vaksinasi terus berkembang. Tidak hanya di dunia, tapi juga di Indonesia. Namun setelah saya mereview beberapa bahan bacaan, saya menyimpulkan bahwa informasi seputar kontra vaksinasi memiliki tendensi untuk penjualan obat dan atau pengobatan alternatif, namun dengan cara mengkampanyekan anti vaksinasi melalui penyebaran tulisan yang: 1) bias karena hanya diambil sebagian dari sumber publikasi sebenarnya, 2) salah pengalihbahasaannya dari sumber publikasi sebenarnya, 3) pembohongan publik karena mencantumkan quote dari nama ahli yang fiktif, 4) mempersoalkan keharaman vaksin.

Mudah sekali mencari tulisan2 kontra imunisasi. Sehingga pada awalnya, saya pun ragu untuk melanjutkan vaksinasi Rasikha. Namun syukurlah, saya bertemu dengan tulisan-tulisan terpercaya yang gak hanya copy paste aja, dan tanpa tendensi apapun kecuali mengupayakan memberi yang terbaik untuk anaknya dan untuk anak Indonesia.

Berikut beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  1. Fungsi vaksinasi adalah memasukkan virus atau bakteri (kuman) yang dilemahkan ke dalam tubuh agar tubuh mengenali data kuman tersebut lalu membangun sistem perlawanan berupa antibodi yang siap mengenali dan melawan kuman serupa di kemudian hari. Jadi, vaksinasi menjadi semacam training atau sarana berlatih bagi tubuh untuk melawan kuman serupa yang sebenarnya (bukan kuman yang dilemahkan).
  2. Vaksi
  3. nasi adalah imunisasi yang disengaja. Tanpa vaksinasi pun, tubuh memang dapat membangun sistem perlawanan. Yaitu ketika terkena serangan kuman yang sebenarnya. Jika tubuh berhasil membangun sistem perlawanan dengan membentuk antibodi, maka itulah imunisasi alamiah. Bedanya, resiko menjadi lebih tinggi, beban perlawanan menjadi lebih berat, karena tubuh berhadapan langsung dengan kuman berkekuatan sebenarnya.
  4. Dengan vaksinasi, bukan berarti tidak akan terjangkit penyakit, namun resiko atas terjangkitnya penyakit menjadi jauh lebih ringan.
  5. Kegagalan vaksinasi benar dapat terjadi, namun data statistik menunjukkan bahwa angka kegagalan sangat sedikit, jauh sekali dibandingkan dengan jumlah individu yang terjaga oleh vaksinasi.
  6. Vaksinasi + gaya hidup sehat saling melengkapi. Tapi gaya hidup sehat tidak bisa menggantikan fungsi vaksinasi sebagaimana pada butir 1.
  7. Benar bahwa seseorang bisa tetap tidak terinfeksi kuman walaupun tidak divaksinasi, tapi hal itu bukan hanya dipengaruhi oleh kekebalan tubuhnya sendiri, namun juga dipengaruhi oleh herd immunity atau imunitas komunitas. Herd immunity adalah imunitas yang terbentuk saat sebagian besar individu pada suatu komunitas telah divaksinasi sehingga memberikan perlindungan bagi individu yang tidak divaksinasi di komunitas itu. Googling deh soal herd immunity ini.
  8. Urusan halal dan haram karena proses produksi vaksin tertentu masih menggunakan bahan yang haram juga selalu menjadi perdebatan panjang.Berikut informasi yang saya dapatkan. Menurut fatwa MUI, vaksinasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, untuk mencegah terjadinya penyakit. Penggunaan vaksin yang mengandung atau bersinggungan dengan unsur yang diharamkan, maka hukumnya haram. Tetapi, keharamannya bukan pada tindakan vaksinasi, namun karena proses pembuatan atau kandungan vaksinnya. Dalam hal tidak atau belum ditemukannya vaksin yang halal, vaksin yang haram menjadi boleh untuk kebutuhan mendesak atau selama vaksin yang halal belum tersedia.

Ramainya pro dan kontra vaksinasi tidak membuat saya mengagungkan vaksinasi, karena memang vaksinasi tetap mempunyai manfaat dan bahaya (dengan tingkat bahaya individu yang relatif sangat kecil). Namun sungguh sangat disayangkan jika karena informasi yang sangat meyakinkan namun nggak valid, banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anak2nya.

Saya bukan dokter, bukan juga yang sungguh paham soal agama, tapi dengan mengumpulkan informasi dan menimbang manfaat dan bahaya vaksinasi, maka saya memutuskan untuk memberikan vaksinasi bagi anak2 saya. Setidaknya, begitulah upaya saya sebelum mengambil keputusan.

Ya, semakin banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anaknya, maka semakin penting bagi saya memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Jadi, memilih steril atau imun? Saya jelas memilih imun, karena kondisi tidak selalu ideal.

Beberapa bahan bacaan seputar vaksinasi yang menarik:

21 Februari 2013

Advertisements

About Febriana

Mama Rasikha. Ibu bekerja. Pemimpi. Pengejar impian. Selalu ingin menjadi rendah hati..
This entry was posted in Kids and Family and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s