Rasikha, NICU, dan Harapan Kita

Melalui masa perawatan di NICU dan post NICU di RS Harapan Kita selama sekitar 8 minggu, saya dan suami sungguh terkesan karena perawat2 yang menangani bayi2 di NICU sangat profesional dan ramah.

Bayi2 yang dirawat di sana beragam masalahnya dan masa rawatnya. Beragam pula orangtuanya. Maksud saya, kemampuan finansial orang tuanya.

Membaca dan mendengar pemberitaan tentang seorang bayi prematur yang meninggal karena ‘ditolak’ oleh beberapa rumah sakit , mengingatkan saya pada masa2 ketika kami mengupayakan agar Rasikha bisa mendapatkan tempat perawatan.

Awalnya, saya yang seharusnya diinfus air ketuban, ternyata malah kontraksi, sehingga harus diinfus obat anti kontraksi. Namun kontraksi lebih kuat dari pada obat anti kontraksinya, sehingga dalam beberapa jam saja saya sudah bukaan lengkap. Mendapati kondisi saya yang seperti itu, dokter bilang bahwa bayi saya harus dilahirkan, namun kita harus mencari NICU (Neonatal Intensive Care Unit). NICU adalah suatu ruang perawatan intensif di rumah sakit yang  difungsikan untuk merawat bayi prematur dan bayi baru lahir sampai berusia 30 hari yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus di bawah pantauan tim dokter untuk mencegah dan mengobati kegagalan organ-organ vital bayi.

Rumah sakit tempat saya infus itu adalah rumah sakit sederhana, sehingga tidak mempunyai unit NICU. Sekitar 3 jam lebih tim dokter dan suster di rumah sakit sederhana itu menelepon secara random rumah sakit besar yang mempunyai unit NICU.

Rumah sakit yang mempunyai NICU memang sedikit dan jumlah unitnya pun sedikit. Dari yang sedikit itu, masih dibagi lagi bagi bayi yang memang dilahirkan di RS itu dan bagi bayi rujukan. Bahkan hanya telat sedikit waktu saja, rumah sakit yang sudah menyatakan bahwa masih memiliki 1 unit NICU, ketika dikonfirmasi 10 menit kemudian ternyata sudah terbooking oleh pasien yang baru saja datang. Begitu sulitnya kami mencari, sampai akhirnya, alhamdulillah, RS Bunda Margonda konfirm masih memiliki NICU bagi bayi kami yang akan lahir.

Persiapan merujuk saya untuk melahirkan di RS Bunda Margonda pun dilakukan. Alhamdulillah, setelah proses melahirkan Rasikha di usia kandungan 29 minggu, Rasikha langsung ditempatkan di NICU, bahkan tanpa sempat  saya lihat dan saya sentuh. Kenapa? Karena tim dokter mengupayakan seminimal mungkin Rasikha kontak dengan lingkungan karena bayi prematur sangat rentan terinfeksi. Namun Alhamdulillah, tim dokter tetap memberikan kesempatan kepada Rasikha untuk mendapatkan haknya, yaitu diadzankan oleh Papanya.

Setelah 2 hari dirawat di NICU Bunda Margonda, beruntung Rasikha bisa mendapatkan tempat di NICU RS Harapan Kita melalui proses rujukan, sehingga kami tidak terlalu terbebani oleh besarnya biaya perawatan berminggu-minggu karena ditanggung oleh asuransi.

Selama menemani Rasikha di RS Harapan Kita selama 8 minggu itulah, saya berteman dengan ibu2 sesama bayi prematur. Kami berbagi cerita, berbagi semangat, berbagi kekuatan.

Ada Ibu yang bayinya hanya membutuhkan perawatan selama 2 minggu karena lahir di usia kandungan 8 bulan, ada juga ibu yang bayinya harus mengalami masa perawatan yang lebih lama dari Rasikha karena lahir di usia kandungan 6 bulan dengan berat hanya 700 gram. 

Selama masa berbagi itulah, saya mendapatkan informasi bahwa Harapan Kita tidak hanya melayani pasien yang mampu, tapi juga melayani pasien yang tidak mampu (perlu DP Rp. 15 juta untuk masuk NICU jika tanpa asuransi, perlu DP Rp. 5 juta untuk masuk NICU dengan asuransi). Ada 1 ibu yang bahkan tidak mengeluarkan uang lebih dari Rp 200 ribu untuk perawatan bayinya di Harapan Kita yang kondisinya lebih parah dari Rasikha. Kenapa? Karena ibu itu menggunakan surat keterangan tidak mampu. Ibu itu memang perlu sedikit repot pada awalnya untuk mengurus segala keperluan administratif, tapi bayinya mendapatkan perawatan yang sama baiknya dengan bayi2 ibu lain yang membayar dari uangnya sendiri. Menurut ibu itu, Pemerintah menanggung biaya perawatan bayinya sampai maksimal Rp 100 juta.

Begitulah. Terlepas dari kontroversi kartu sehat, tapi saya kurang nyaman dengan pemberitaan yang menggunakan kata beberapa rumah sakit ‘menolak’. Dan terlepas dari persoalan ‘menolak’ ini, saya tetap terenyuh dan berempati saat menonton pemberitaan ini. Semoga di sana, tempatmu adalah yang terbaik ya Dek 🙂

19 Februari 2013

Catatan: 

Tulisan ini hanya bermaksud untuk berbagi pengalaman saja

Advertisements

About Febriana

Mama Rasikha. Ibu bekerja. Pemimpi. Pengejar impian. Selalu ingin menjadi rendah hati..
This entry was posted in Kids and Family and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Rasikha, NICU, dan Harapan Kita

  1. Ica says:

    Bismillah, Mbak boleh sharing ga, kbtln anak sy jg lg d nicu, rencana pgn pindah harapan kita, boleh minta kontak atau apa aja yg lbh bs lngsung ngobrol via sms, bb atau wa? Jazaakillah khair ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s