Negeri Nusantara

‘Tidak kusangka, Nak.’
‘Apa yang tak disangka, Bunda?’
‘Dengan sukarela kau sudah jadi Jawa lagi begini?’
‘Ampuni sahaya, Bunda, bukan karena sukarela, karena aturan sekolah, Bunda. Puteramu sekarang harus bercakar ayam seperti ini.’
‘Dari nada suaramu ada kudengar kau semakin tak suka jadi Jawa, Nak.’
‘Apa memang begitu penting jadi Jawa, Bunda?’
Belum lagi selesai bicara, segera aku jatuhkan diri ke lantai melihat Bunda mengucurkan airmata, dan pandangnya dibuang ke langit melalui jendela. Aku cium kakinya dan memohon ampunnya untuk kesekian kali.
‘Sekarang aku mengerti mengapa hidupmu begitu tidak berbahagia, Nak. Kesalahanmu sendiri, tingkahmu sendiri, didikan Belanda sudah lupakan asal. Kau tidak senang dalam pakaianmu itu, kau tidak senang pada ibumu karena dia bukan Belanda.’
‘Ampun, Bunda’, kucegah ia meneruskan ucapannya.
‘Kau tidak senang pada air yang kau minum dan nasi yang kau makan.’
‘Ampun Bunda, ampun, ampun.’
‘Barangkali kau pun tidak suka pada kelahiranmu sendiri?’ Bunda tak dapat dicegah bicara. Kata-katanya mencekam, menggigilkan syaraf sampai ke ujung-ujung. ‘Asal kau tahu, itu kau yang kuhadapi sekarang. Sekarang ini. Asal kau tahu, itu yang membikin anakku yang sengsara seperti ini. Ah, anakku, kan sudah berkali-kali kukatakan: belajarlah berterima kasih, belajarlah bersyukur, anakku. Kau, kau, berlatihlah mulai sekarang, Nak, berterimakasihlah, bersyukur pada apa yang ada padamu, yang kau dapatkan dan kau dapat berikan. Impian takkan habis-habisnya. Belajarlah berterima kasih, bersyukur, sedang kiamat masih jauh.’
Suaranya yang lemah lembut menderu menyambar-nyambar, lebih perkasa dari petirnya para dewa, lebih ampuh dari mantra semua dukun, suara dari seorang ibu yang mencinta. ‘Kalau kau sudah dengar semua kataku, bangunlah.
Kalau tidak, tetaplah bersujud di bawah kakiku, biar aku ulangi.’
‘Sahaya sudah dengar semua, Bunda, setiap patah-takkan terlupakan.’
‘Bangunlah.’
(Pramoedya Ananta Toer, dalam ‘Jejak Langkah’)

Membaca sepetikan roman sejarah itu, menyelipkan kerinduan yang membuncah…
Ia menyelinap dalam relung jiwa…

Ah…Menjadi Jawa… Entah sejak kapan akar itu tercabut dari diri saya… bermetamorfosa… Hingga tak lagi tersisa…

Hehe… Na, loe orang mana? Setiap saya aku mendapat pertanyaan itu, saya selalu menjawab ‘saya lahir dan besar di Jakarta, tapi ayah orang jawa, ibu orang sunda.’

Sekilas memang gak ada yang salah dari jawaban itu. yah…memang gak ada yang salah, hanya saja saat ini saya mulai menyesali diri… mengapa darah jawa dan sunda itu gak mengental merah pada diri saya… sedang betawipun saya bukan.

2 juni 2007, yogyakarta. Selesai saya menghadiri resepsi pernikahan sahabat di Klaten, saya dan teman2 menyempatkan diri berkunjung ke Prambanan. Betapa keanggunannya, maha karya elok dari makhluk yang dinamakan manusia, toh akhirnya runtuh tak berdaya oleh kekuasaan Allah.

Tapi masih ada yang tersisa untuk dikenang. Tak semua bangunan runtuh. Beberapa candi besarnya masih utuh, walau hanya tingal hitungan jari. Dan kau tahu, sang maha karya pun tetap amat elok ketika malam itu kami menonton sendratari Ramayana. Panggung itu berlatar prambanan, yang disoroti lampu redup, yang semakin indah dengan usapan cahaya bulan purnama. Subhanallah, indah sekali. Segala puji bagiMu ya Allah, yang telah menganugrahkan nenek moyangku kemampuan untuk membangun candi itu…

Malam itu, puluhan orang berada di atas panggung, melenggak lenggok menarikan kisah Ramayana. kisah kebajikan pewayangan. Ah… budaya negeri yang indah. Nyata2 masih ada keindahan di negeri ini. Selain indah alamnya yang kini mulai memprotes manusianya… masih ada keindahan budaya yang kini membuat saya jatuh cinta. Membuat saya rindu menjadi seorang jawa, seorang sunda. Kenapa harus jawa atau Sunda? Bukan apa, karena dengan menjadi jawa atau sunda, Betawi pun juga tak mengapa, saya bisa ‘setidaknya’ menikmati menjadi Indonesia. Apakah terlambat?? Ah..Mungkin akar itu sudah tercabut.. .tapi saya akan mencoba menanamkannya kembali…

Tanah airku Indonesia…
Negeri elok amat kucinta…
Na na na na….

Aku melayang
Mabuk pada indahnya cinta yang meradang

Kau tahu… jiwa ini menggeliat perlahan menyaksikan sosoknya
Ia indah…sungguh
Dan luluhku pun terbalut dalam simphoni sejatinya

-17 Juni 2007-

Advertisements

About Febriana

Mama Rasikha. Ibu bekerja. Pemimpi. Pengejar impian. Selalu ingin menjadi rendah hati..
This entry was posted in Asal Celoteh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Negeri Nusantara

  1. noishe says:

    mungkin ada yg bilang tutur bahasaku ‘medhok’ Jawa..ga gaul g ngikuti bhs elo-gue..tp y begitulah aq pun ga malu dibilang Jawa..hehehe..mo apapun dialegny,sukunya n darahnya..yg penting tetap bangga Indonesia..:)

  2. Febriana says:

    Hei Noishe, kamu medhok banget sih :p
    IndONEsia!! prok prok prok prok prok!! Hihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s