Gadis Kumal dan Seribu Rupiah

Siang itu panas sekali. Perjalanan pulang dari bandara kali ini saya pilih menggunakan Damri ke Kampung Rambutan, dilanjutkan dengan angkot ke arah cisalak dan ojek. Di angkot biru itulah, saya melihat sesuatu yang menurut saya menarik. Duduk berhadapan dengan saya seorang gadis kurus. Ukuran badannya seperti anak berusia belasan. Tapi jika saya lihat dari garis wajahnya, ia tampak lebih tua. Warna kulit dan rambutnya seperti terbakar. Kumal. Pakaiannya sederhana sekali. Sandal yang digunakannya pun seadanya dengan ukuran yang kebesaran. Dalam pandang sekilas, saya melihat tas coklat muda yang digunakannya. Tas itu sudah usang, kulitnya terkelupas di sana sini, menyebar di hampir separuh bagian tas. Membuat warna coklat muda dan putih (lapisan yang kulitnya terkelupas) berpadu berantakan. Begitulah, penampilannya tak cukup menunjukkan bahwa ia memiliki kebercukupan dalam hal materi.

Kira-kira perjalanan 15 menit berlalu. Kemudian naiklah ke angkot seorang bapak yang membawa kotak amal sumbangan pembangunan masjid. Ketika bapak itu menyampaikan intro kalimat yang (saya kira) selalu ia sampaikan dengan tak satupun kata berbeda di setiap angkot yang ia naiki, sang gadis merogoh tasnya. Dari kumpulan uang seribuannya, ia mengambil selembar yang lalu ia masukkan ke dalam kotak amal saat bapak itu menyodorkannya ke penumpang.

Entahlah… menurut saya hal tersebut menarik. Bagi kita, uang seribu rupiah tentu tak seberapa. Bisa jadi bahkan hampir tak bernilai. Tapi bagi gadis dihadapanku, dengan penampilannya yang seadanya, bisa jadi cukup bernilai. Tapi ia tak ragu memberikannya sebagai investasi akhiratnya.. Betapa ia seorang yang bersyukur. Begitu yang kupikirkan dalam hati. Dalam kesederhanaanya ia masih dapat berbagi.. Yup, tentu manifestasi dari rasa syukur ketika merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan padanya, dan bersedia berbagi. Tak selalu mengeluh tentang penghasilan yang kurang.. penghasilan tak cukup. Tak selalu mengeluh tentang sulitnya hidup. Subhanallah.. semoga Allah terus memberimu kelapangan dalam hidup dan matimu.

Ya… perjalanan panas siang itu, menjadi teduh karena melihatmu… Terima kasih.

(Tulisan lama di facebook yang saya suka – 20 April 2009)

Advertisements

About Febriana

Mama Rasikha. Ibu bekerja. Pemimpi. Pengejar impian. Selalu ingin menjadi rendah hati..
This entry was posted in Asal Celoteh and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s