MPASI dan Printilan Alat Perangnya

Excited banget ya menunggu saat-saat MPASI dimulai.

Pertama, karena artinya Raffa lulus 6 bulan ASI (nggak) eksklusif, karena sempat kena susu formula. Sekarang sudah mulai terbantu dengan MPASI, Alhamdulillah. Hihi.. jadi lulus dari masa kejar-kejaran pumping supaya terpenuhi kebutuhan ASInya. Seru. Menegangkan. Halah.. lebay. Hehehe..

Kedua, karena MPASI kali ini udah dibekali ilmu buat MPASI homemade.

Waktu Rasikha dulu, saya memulai MPASI dengan puree buah. Setiap hari sampai sebulan pertama MPASInya cuma maem puree buah aja. Selanjutnya baru dimulai dengan bubur tim. Bikin bubur timnya pake alat-alat masak yang biasanya buat porsi besar. Belakangan akhirnya memilih bubur bayi yang suka dijual franchise-franchise dekat rumah karena lebih praktis. (ssstttt… kalo dulu franchise kayak gitu masih jarang jadi masih berani percaya sama kualitasnya. Kalo sekarang kok ya menjamur jadi kayaknya kok ya kurang recommended ya).

Ngintip ilmu dari WHO yuks..

Begini isi poin-poin MPASI WHO:
  • Pentingnya memperhatikan kebutuhan energi (yang tidak bisa hanya dipenuhi dari puree buah dan sayur saja) dan kebutuhan zat besi (terutama pada bayi ASI)
  • MPASI baru dapat diberikan setelah usia anak mencapai 6 bulan atau 180 hari.
  • Frekuensi pemberian MPASI mulai dari 2 kali sehari saat awal MPASI hingga 3-4 kali makan besar plus 1-2 kali camilan di usia 12 bulan.
  • Porsi MPASI sekali makan mulai dari 2-3 sendok makan dewasa saat awal MPASI hingga 125 ml di usia 12 bulan
  • Tekstur MPASI mulai dari makanan lumat, meningkat menjadi makanan lembik, lalu menjadi makanan keluarga di usia 12 bulan.
  • Keragaman MPASI. Di sini nih disarankan untuk menggunakan menu 4*(baca: 4 bintang). Artinya menu yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan lemak tambahan. Lemak tambahannya bisa berupa minyak goreng, unsalted butter, santan, atau extra virgin olive oil alias minyak zaitun (evoo).
  • Aktif / responsif. Penting berinteraksi dengan anak saat makan.

MPASI menurut WHO (Complementary Feeding – Family Foods for Breastfed Children) bisa disearch untuk dibaca lengkapnya ya..

whatsapp-image-2016-11-06-at-6-12-09-am

 

Untuk 2 minggu pertama MPASI, biasanya dilakukan tes alergi. Ada yang menggunakan menu tunggal 1 harian, ada juga yang menggunakan menu 3 harian. Lalu setelah 2 minggu baru mulai berikan menu MPASI 4*.

Kalau untuk Raffa? Hehehe.. saya sedikit improvisasi aja. Mengingat saya, suami, dan Rasikha gak punya alergi makanan, jadi cukup pede buat improvisasi. Paling produk olahan susu yang harus sedikit hati-hati, karena Raffa alergi susu formula.

Jadi saya langsung menuju menu 4* secara bertahap, dengan tetap memperhatikan tes alerginya, karena berat badan Raffa cenderung mepet.

Di 2 minggu pertama, setiap hari selalu ada menu karbohidrat dan buah. Didampingi dengan menu lainnya secara bergantian, protein atau sayur. Bertahap hingga setelah 2 minggu Raffa udah masuk ke menu 4*.

Saya juga memperhatikan menu seratnya. Karena pada bayi, makanan berserat justru memicu sembelit, kebalikan ya dari orang dewasa. Jadi pada 2 minggu pertama, saya menghindari menu double serat. Dan setelah masuk menu 4*, tetap mengupayakan menu yang dapat mengimbangi porsi seratnya, misalnya dengan buah-buah yang banyak kandungan airnya seperti melon, buah naga, pear, semangka.

Nggak lupa juga memberikan air putih setiap habis makan.. untuk membantu BAB lancar. Karena harusnya bayi MPASI BAB setiap hari. Untuk kebutuhan zat besinya, selain dari menu MPASI, Raffa dapat suplemen zat besi dari dokter.

Nah.. selanjutnya ini nih Printilan Alat Perang MPASInya Raffa. Hihi..
1. Baby Safe 10 in 1
baby-safe

Ini nih alat andalan yang bikin nyiapin MPASI homemade jadi sangat praktis.

Sebelum akhirnya memutuskan beli baby safe 10 in 1, saya sempat mempertimbangkan baby safe slow cooker dan tahaki slow cooker.

Apa bedanya?

Slow cooker gak bisa digunakan untuk kukus. Sedangkan Baby Safe 10 in 1, bisa dipakai untuk kukus, rebus, dan bikin bubur, plus ada fitur auto on. Jadi kalau kita ingin masakannya matang pada jam tertentu dengan durasi memasak tertentu, kita bisa setting untuk ON mulai memasak pada jam tertentu. Jadi bisa diset dari malam sebelum tidur. Gak perlu khawatir bangun kesiangan. Pas bangun masakan udah matang deh. Hehehe..

Tapi hati-hati ya, supaya glass bowl nya terhindar dari kemungkinan pecah saat memasak, sebaiknya hindari perubahan suhu ekstrem ya.. Jadi kalau masih panas jangan langsung direndam air untuk dicuci. Atau kalau habis dicuci jangan langsung digunakan untuk memasak. Kalaupun kadung pecah, Alhamdulillah nyari sparepart nya juga gampang ternyata.

2. Saringan kawat

saringan-kawat

 

Nah saringan kawat ini dipakai untuk menghaluskan makanan. Tekstur pertama Raffa selama 1 bulan pertama MPASI didapat dari saringan kawat ini. Saya nggak menggunakan blender karena blender cenderung menghasilkan tekstur yang sangat lembut. Mungkin karena saya menggunakan blender ukuran biasa kali yah. Saya belum pernah coba pakai blender khusus makanan bayi.

 

3. Munchkin Grinder

munchkin-grinder

Munchkin grinder ini dipakai sejak Raffa usia 7 bulan. Karena dengan alat ini bisa menghasilkan tekstur yang lebih tinggi tingkatannya dari pada saringan kawat. Alat ini manual. Makanan dimasukkan ke dalam lubang bagian tengah, lalu ditutup dengan bagian atasnya sambil ditekan dan diputar sehingga makanan yang di dalam lubang bagian tengah tertekan sekaligus terpotong dengan mata pisau yang diputar. Kalau makanannya belum cukup lunak mungkin agak menghabiskan energi menggunakan alat ini. Tapi kalau makanan matang yang sudah direbus atau sudah dikukus, oke kok.

 

4. Perasan Jeruk

mode-surga-hot-sale-pemeras-dengan-mangkuk-juicer-strainer-dengan-menangani-dan-tuangkan-cerat-aug22-putih

Alat yang praktis buat memeras jeruk buat camilan Raffa, saya ambil dari kado feeding set. Manual. Tapi mudah digunakan kok. Alat ini mah umum digunakan. Gak cuma buat bayi ya.. buat bikin es jeruk Emaknya juga bisa pakai ini.

 

 

 

5. Baby Cube

baby-cubes-8x40ml_29Alat ini digunakan sebagai wadah penyimpan tertutup dengan porsi sekali pakai. Ada 3 pilihan ukuran, 40 ml, 70 ml, dan 140 ml. Saya pakai babycube untuk menyimpan kaldu. Ringkas banget buat disimpan difreezer. Babycube juga bisa digunakan untuk puree buah. Tapi kalau puree, saya selalu buat fresh. Oh ya, baby cube juga bisa digunakan di microwave lho.

 

6. Tupperware – Petite Square

download

Nah.. ini juga wadah makannya Raffa. Biasanya saya gunakan untuk menyimpan MPASI Raffa saat bepergian. Jadi ringkas dan aman karena tutupnya handal 🙂 Ukurannya untuk 80 ml, pas untuk 1 kali porsi makan bayi usia 0-9 bulan. Kalau nanti porsi makannya Raffa udah makin besar, kayaknya bisa digunakan buat wadah lainnya. Saya gak beli 1 set. Saya beli di shopee, di sana dijual satuan. Jadi saya cuma punya 3 pcs aja. Hemat hemat.. hehehe

 

 

7. Little Bites Stroge Jars Kinder Ville

14906819_10154720521763887_1315695144782314924_n

Wadah lagi… Hihihi… Yang ini bisa digunakan di freezer, warmer, maupun microwave. Bahannya dari silikon high grade yang resisten terhadap bakteri. Ukurannya bisa menampung makanan 100 ml. Warna warninya menarik. Awet juga, sudah digunakan sejak zaman Rasikha MPASI dulu. Saya biasanya bikin makan besarnya Raffa sekali aja sehari untuk 3 kali porsi makan. Lalu saya tempatkan di wadah ini. Saat mau dimakan, tinggal taro di warmer bareng wadahnya deh..

 

8. Little Baby Changing Colour Safety Spoon

sendok-mpasi

Saya memilih sendok ini karena ada sensor panasnya. Sendok akan berubah warna kalau makanan masih panas. Penting nih untuk mengurangi trauma makan baby. Biasanya kalau kali pertama makanan yang masuk masih panas, akan menolak suapan berikutnya. Saya memilih merk ini karena 1 set dijual hanya 2 pcs. Hihi.. hemat hemat.. Jadi cuci pakai cuci pakai aja.. gak susah kok mencuci sendok aja. Sterilnya disiram air panas aja deh.

 

 

9. Summer Infant Comfort Folding Booster

summer-folding-booster-seat-500x554

Nah.. yang ini andalan saya banget sejak zamannya Rasikha. Bentuknya compact dan mudah dibawa travelling. Sangat bermanfaat buat membiasakan baby makan dengan duduk. Gak digendong dan gak jalan-jalan. Kursinya juga bisa digunakan sebagai booster chair kalau mau makan bersama di meja makan.

 

10. Bib atau slaber

bib-plastik

 

Hihi.. celemek makan ini mah wajib yess dipakai karena baby yang baru MPASI biasanya makannya masih belepotan. Sekarang banyak slaber lucu. Ada yang bahannya kain maupun plastik. Bisa menambah keseruan aktivitas nyuapin makan baby

 

Aside | Posted on by | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Raffa dan Tongue Tied

Maret 2016.

Adem sekali menatap wajahmu Nak.

collage-1

Mama bahagia sekali saat Suster mengantarmu pertama kali untuk room in.

‘Saya yang nangkep dari Dokter kok Bu waktu persalinan. Sempet difoto juga sama suster lain yg lagi hamil sebelum dibawa ke ruang baby karena berharap anaknya laki2 berdagu bolong kayak begini Bu’, jawab Suster yang kutanyakan kepastian si bayi ganteng ini memang lahir dari rahimku. Hihi..

Selang beberapa waktu, Suster mengajarkan bagaimana melakukan perlekatan untuk memberikan ASI. Bukan perkara mudah ternyata. Apalagi ini hal yang lama tapi baru bagiku karena Rasikha dulu tidak menikmati ASI dengan direct breastfeed.

Malam pertama sampai malam terakhir room in Raffa rajin menangis. Setiap diletakkan di baby box-nya menangis. Di-mimik-in kesel karena sepertinya belum bisa mimik anteng padahal sudah pintar mengisap. Sempat bertanya-tanya kenapa bayiku menangis terus padahal kolostrum sudah keluar.

Beberapa kali Suster Laktasi membantuku untuk melakukan perlekatan ke bayiku. Bayiku kenyot beberapa isap, lalu lepas lagi perlekatannya. Begitu berkali-kali.

Minggu pertama Raffa di rumah, Raffa sudah anteng mimiknya. Tapi ya begitu, mimik terus maunya. Sampai bingung apa iya ASI-ku gak mampu bikin Raffa kenyang. Kalau perlekatan lepas, Raffa bangun dan nangis. Sampai tiap malam harus begadang karena aku belum bisa mimik-in Raffa sambil tiduran.

Beberapa hari berikutnya, aku mulai galau. Kenapa kok Raffa mulai gak anteng dikasih mimik, meronta meraung keras, seperti menolak. Maunya nangis terus (baru belakangan kuketahui bahwa Raffa kehausan). Konsultasi melalui whatsapp dengan Ithoh, Kawan SMU yang adalah seorang dokter sekaligus Konselor Laktasi, dan juga dengan Wulan, sepupu ku, mengarah pada kemungkinan bayiku Tongue Tied, karena ciri-ciri nya mirip sekali:

  • Nipple Ibu lecet
  • Perlekatan lepas terus
  • Mimik dalam durasi yang sangat panjang, bisa berjam-jam (versiku dan Raffa, bisa 5 jam mimik-in)
  • Berat badan turun

Tapi aku masih keukeuh bahwa saat ini kami hanya perlu waktu untuk belajar. Iya.. aku dan Raffa sedang sama-sama belajar untuk menyusui-menyusu dengan baik. Jadi aku belum melaksanakan saran dari Ithoh dan Wulan. Toh, tali lidah Raffa kulihat normal-normal saja.

Puncaknya adalah saat pagi mau mandiin Raffa, ada bekas bercak kemerahan di popoknya. Panik dong, takut ‘sesuatunya’ ada yang luka.

pampers-raffa-27-maret-2016

Kami langsung ke dokter di RS tempat Raffa lahir. Dan kaget saat Raffa ditimbang ternyata beratnya turun 500 gram. Padahal normalnya berat bayi hanya turun 10% dari berat lahirnya. Dan harusnya di 2 minggu pertama, berat bayi sudah kembali ke berat lahirnya. Sedangkan usia Raffa saat itu sudah 2 minggu.

Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung bawa Raffa ke KMC, sesuai saran Ithoh dan Wulan yang selama ini memang kutunda-tunda.

Singkat cerita, setelah menunggu cukup lama karena panjangnya antrian, berhasillah kami bertemu dengan Dokter Asti Praborini, SpA, IBCLC, dokter spesialis anak yang juga dokter Laktasi, tanpa perjanjian. Alhamdulillah, sungguh dipermudah Allah.

Ternyata bercak darah di popok Raffa adalah indikasi bahwa Raffa dehidrasi. Kekurangan cairan karena ndak bisa mimik ASI secara baik. Hiks..

Setelah dokter menjelaskan banyak hal, jadilah Raffa diinsisi. Digunting tali lidah. Dan tali bibir atasnya. 😦

Beruntung Nenek menemani, sehingga aku cukup tegar melihat Raffa diinsisi.

collage-2

Iya, Raffa Tongue Tied dan Lip Tied. Grade 3. Jika dilihat sekilas memang tidak Nampak TT-nya.

‘Tapi jika di pencet, kelihatan deh tebal sekali TT-nya sehingga gak fleksibel’. Begitu kata Dokter.

Proses insisi berlangsung sangat cepat. Tanpa bius. Sekejap mata saja tahu2 tali lidah dan bibirnya sudah digunting. Terdengar Raffa menangis kencang sekali.. pasti sakit. Maafkan Mama Nak.. insyaAllah ini ikhtiar kita Nak. Ikhtiar agar Raffa bisa Mimik directly.

Darah yang keluar dari insisi disumbat dengan kapas dan secara sigap Suster memberikan Raffa ke gendongan ku untuk di-mimik-in. Raffa langsung mimik..tangisnya berhenti.. dan darahnya seketika juga berhenti. MasyaAllah.

med-20901-sns_framed

Untuk kejar berat badannya, Raffa harus disuplementasi dengan asi donor atau susu formula. Dengan dosis suplementasi yang diresepkan oleh dokter (dosis awalnya 60 ml x 5 kali sehari). Dan suplementasi itu dialirkan melalui selang, dengan Medela SNS namanya, Sumplementary Nursing System. Selang ditempelkan di nipple sehingga saat menyusu directly, Raffa mengisap sekaligus ASI ku dan susu dari SNS. Pun selama 10 hari harus melakukan senam lidah untuk melatih lidah Raffa mengisap lebih kuat.

Alhamdulillah setelah insisi Raffa mimik pintar sekali. Tidurnya nyenyak.

Jangan tanya bagaimana perasaan Mama yang harus menyusui dengan selang. Apalagi saat kunjungan ke RS, lalu beberapa Ibu melihat aneh dan berbisik-bisik. Hihi..

Awalnya, saya dan suami bersepakat karena beberapa pertimbangan, memilih susu formula sebagai suplementasi. Entahlah, walaupun sifatnya temporary, tapi rasanya lebih sulit untuk berbagi Raffa-ku dengan Ibu lain. Belum lagi soal riwayat kesehatan. Dan soal hukum muhrimnya kelak. Tapi baru saja 3 hari Raffa suplementasi dengan susu formula, Raffa batuk pilek parah dan demam juga. Setelah konsultasi ke dokter, ternyata Raffa gak cocok dengan susu formula, padahal susu formula yang kuberikan yang HA lho..

Jadilah akhirnya kuputuskan untuk menggunakan ASI donor. Alhamdulillah, begitu suplementasinya switching ke ASI donor, batuk pilek demam Raffa sembuh. Cepat sekali. Baiklah, Mama mengalah. Mama berdamai Raffa menggunakan ASI donor.

Begitulah. Alhamdulillah. Yang terpenting adalah Raffa ndak tersiksa karena dehidrasi. Dan mimpi Mama agar Raffa bisa mimik ASI-nya Mama dapat terwujud. Dan hari ini, di usiamu 6 bulang 1 minggu, Raffa masih mimik ASI-nya Mama walaupun dengan kondisi kejar tayang (hasil pumping hari ini untuk mimik Raffa besok). Mama bahagia sekali, karena bisa menikmati indahnya perasaan mendapati tatapan matamu Nak saat menyusui. Berkali-kali. Berkali-kali  :*

Maka akhirnya, izinkan aku mengucapkan terima kasih kepada Dokter Asti Praborini, SpA, IBCLC, dokter yang setiap minggu kutemui sejak Raffa insisi hingga suplementasi berhenti. Juga kepada Ithoh dan Wulan yang gak terhitung berapa kali aku bertanya banyak hal. Dan kepada suami dan keluarga atas dukungannya yang tak pernah putus. Terima kasih.

img-20160922-wa0016

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Rasikha dan Mpeng

Maka tidak perlu kita mengatakan ‘kami merasa gagal menjadi orang tua’, namun katakanlah ‘bersama Allah kami bisa lebih baik’.

-Kiki Barkiah-

Menjadi ibu yang baik mungkin tak pernah mudah ya..

Apalagi ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak popular di zamannya.. Tapi keputusan tetap harus dibuat. Tentu dengan menimbang baik dan buruknya.

1 November 2015.

Usia Rasikha sudah 3 tahun 2,5 bulan. Kami putuskan menyapih Mpeng Rasikha dengan cara yang tak popular.

***

-Perkenalan Rasikha dengan Mpeng-

Usianya sekitar 2-4 bulan.

Rasikha muntah lagi.. padahal sudah di-sendawa-in.

Baru aja minum susu. Posisi gendong tubuhnya juga lebih dari 45 derajat. Bayi kebanyakan mungkin gak akan seperti ini.

Bukan gumoh. Ini berbeda.

Rasikha suka sekali minum. Kalau mau minum, tapi gak mendapatkan susunya, Rasikha akan menangis. Tapi kami bingung. Karena katup lambung Rasikha belum sempurna. Katup yang seharusnya menutup setelah terlewati susu yang masuk, membuka lagi, sehingga susu terdorong naik lagi ke atas.

Dan ah.. berkali-kali kami menyaksikan Rasikha berjuang bernafas. Melawan cairan yang menyumbat rongga nafasnya karena muntahnya bukan hanya keluar melalui mulut. Tapi juga hidung. Wajahnya sesekali sampai biru saat berusaha bernafas..megap-megap.. Tapi Alhamdulillah..pertolongan Allah selalu dekat dengan Rasikha 🙂

Tentang cerita GER Rasikha bisa dibaca sekilas di sini

***

Menjaga kebutuhan minum Rasikha. Sambil menjaga agar Rasikha nggak muntah. Akhirnya kami putuskan Mpeng sebagai solusi. Maafkan kami menipu kenyamananmu Nak.. dengan kenyotan semu.

Betul, saat hamil, Mama sudah banyak baca informasi-informasi seputar parenting, tentang kurang baiknya menggunakan Mpeng bagi bayi. Hihi.. siapa sangka rupanya Rasikha terlahir di usia 29 minggu. Kelahiran prematurnya, menyebabkan katup lambungnya belum bertumbuh cukup sempurna. Keputusan tak mudah. Tapi harus kami ambil.

***

Waktu berjalan..

Katup lambung Rasikha semakin sempurna.

Tapi Rasikha malah keasyikan dengan Mpengnya..

Peninabobo tidurnya..

Pemberi kenyamanannya..

Usianya sudah 3 tahun sekarang.

Menyapih Mpeng dengan cara manis tak juga berhasil.

Kami dihadapkan lagi pada pilihan sulit.

IMG-20160922-WA0013.jpg

Princess Cantik masih ngempeng 🙂

Mpeng bukan nenen.Efek Mpeng akan jauh lebih buruk jika dibiarkan terus hingga Rasikha semakin besar.

Menimbang efek baik dan buruknya, tentu menurut sisi pandang kami, Orang Tuanya, akhirnya kami putuskan menggunakan brotowali untuk menyapih Rasikha.

Hanya seoles aja.

Dan Rasikha menolak Mpeng.

Sampai hari ini.

Alhamdulillah.

***

Mpeng adalah salah satu kenyamanan Rasikha.

Kehilangan Mpeng secara tiba-tiba tentu membuat Rasikha bingung..

Ada sesuatu yang hilang..

Kenyamanannya.. tapi tidak Rasikha mengerti.

Sehingga Rasikha mulai sering tantrum. Tidur siang jadi sebentar. Pun tantrum saat malam terbangun dari tidurnya..

Tapi setelah 3 minggu berjalan, semua mulai kembali normal..

Alhamdulillah..

Iya…

Menjadi Ibu yang baik mungkin tak pernah mudah ya..

Apalagi ketika dihadapkan pada pilihan2 yang tidak popular di zamannya..

Tapi keputusan tetap harus dibuat.

Dan kami melakukannya dengan cinta 🙂

img-20160921-wa0026

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , | Leave a comment

3 Tahun itu Adalah Cinta

Ku sebut saja 3 tahun itu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan atas tumbuh kembang mu
Keceriaanmu
Kesehatanmu

Ku sebut saja 3 tahun itu adalah pembelajaran
Pembelajaran menjadi kuat bersama-sama denganmu
Belajar rendah hati atas izinNya untuk hidup ceriamu
Belajar bersyukur atas setiap kemajuan tumbuh kembangmu

img-20160921-wa0027
3 tahun..
Cepet yah…
Hari ini Rasikha udah pintar bernyanyi, pintar bercerita, pintar bermain
Sekaligus juga suka nangis, tantrum gak jelas, suka manja kelewatan yang dibuat2

Sadaaaar banget..
Belum mampu jadi Ibu yang luar biasa buat Rasikha
Sesekali juga belum bisa menjadi orang pertama yang tahu perkembangan2 barunya
Karena masih harus meninggalkan Rasikha sebagai working mom
Iri?
Ya manalah mungkin gak iri sama Ibu lain yang bisa full time menjadi pendidik anak2nya..
Tapi.. pilihan ya tetap pilihan..
Dan ini pilihan bersama yang semoga tetap berkah
img-20160921-wa0029

 Diusia ini..
Rasikha dekaaaaaaat sekali dengan Papa-nya
Ciyuss.. dekaaaaaaat sekali
Iri?
Ya manalah mungkin gak iri saat Rasikha lebih memilih Papanya di banding Ibu yang melahirkannya..
Tapi.. cinta tetaplah cinta
Cinta ku tetap utuh untuk Rasikha dan semoga kelak Rasikha bisa pahami

img-20160921-wa0015

Apa yang paling istimewa di tahun ke-3 atas tumbuh kembang Rasikha?
Alhamdulillah..
Rasikha akhirnya berhenti minum obat anti kejang di usia 2,5 tahun..
Segala puji bagi-Mu yang Maha Penjaga
Kalau dulu, Rasikha begitu terbiasa minum obat setiap malam
Hari ini, Alhamdulillah, Rasikha terbiasa minum madu 🙂

Maka..
Ku sebut saja 3 tahun itu adalah seikat cinta
Cinta dari kami, cinta dari seluruh keluarga dan teman2
Cinta berwujud waktu, tenaga, pikiran, dan doa
Iya.. doa2 yang mungkin tak pernah kami dengar..
Entah dari siapa saja..
Yang menyayangi Rasikha

Dan..
Terima kasih Nak..
3 tahun hadirmu genapi kebahagiaan kami
Teruslah bertumbuh dengan bahagia 🙂

#Latepost

img-20160922-wa0012

Posted in Kids and Family | Leave a comment

Rasikha: Cahaya Mata Kami

Senyuman itu menyenangkan aku..
-Padi: Cahaya Mata-

img-20160921-wa0012

Iya.. Rasikha memang cahaya mata kami..

Usianya tepat 2 tahun hari ini..
Alhamdulillah..
Setahun belakangan banyak sekali progress tumbuh kembangnya..

Rasikha memang punya energi besar sehingga suka banget melakukan aktivitas fisik. Lari sana lari sini. Ngoprek sana ngoprek sini. Naik sana naik sini. Hihi..

Seperti namanya, dan benarlah bahwa nama adalah doa, Rasikha bertumbuh menjadi anak yang kuat.

Serius deh.. Rasikha kuat..
Ngangkat berdiri kasur, mindahin mainan2 yang lebih gede dari badannya, ngangkat koper (kosong) walaupun cuma keangkat sebentar, jatuh terluka bangun lagi, kejedot benjol nangis sebentar main lagi, dan masih panjang listnya.. bisa panjang banget kalo ditulis semuanya.. hehe..

Dan serius deh.. Rasikha kuat..
Kuat melewati 6 bulan pertama terberatnya, yang kini menjadi puzzle2 kisah hidupnya yang selalu kami syukuri..

Dan serius deh.. Rasikha kuat..
Kuat banget sama apa yang menjadi fokusnya, keinginannya. Gak mudah dialihkan. Perlu ekstra energi untuk mengalihkannya.
Karakter ini, semoga kelak apapun yang menjadi cita2mu yang baik, selalu kau upayakan sepenuhnya dengan cara2 yang baik ya Nak..

Teriring doa dari kami yang selalu menyayangimu,
Bertumbuhlah dengan bahagia..
Berkembanglah dengan cinta..
Berkaryalah dengan nama-Nya..

img-20160922-wa0011

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Rasikha dan Perkembangannya

Maka, nikmat Allah manakah yang dapat kamu dustakan?

img-20160921-wa0005

Berbagi cerita, berbagi bahagia ah..

Jumat lalu kami membawa Rasikha ke Klinik Tumbuh Kembang (KTK) RS Harapan Kita. Kami bertemu dengan Dr. Lucy, DSA yang juga kepala KTK, sekaligus juga dokter yg dulu 1 tim perineonatal bersama beberapa dokter lain yang merawat Rasikha selama 8 minggu di awal kelahirannya.

Awal pemeriksaan di KTK, dr. Lucy membaca buku status medis Rasikha, lalu menjelaskan, ‘Rasikha dulu pernah infeksi jamur sampai ke otak ya Bu. Dan melihat catatan bahwa Rasikha minum obat anti kejang sejak usia 6 minggu sampai sekarang, maka Rasikha beresiko terlambat berat perkembangannya’.

Rasikha masih tidur nyenyak di gendongan saat dr. Lucy menjelaskan. Sedih banget mendengar penjelasan dr. Lucy itu.

‘Berapa usia Rasikha sekarang?’, tanya dr. Lucy, yang langsung kami jawab bahwa usia Rasikha 7 bulan 20 hari (sekitar 34 minggu).

‘Oke. Rasikha lahir di usia kandungan 29 minggu ya Bu. Sebentar saya hitung usia koreksinya ya Bu. Usia normal kandungan cukup umur adalah 40 minggu. Maka Usia koreksi Rasikha sekarang adalah 34 minggu – (40 minggu – 29 minggu), yaitu sekitar 23 minggu atau 5 bulan’.

Setelah itu dr. Lucy menyampaikan beberapa pertanyaan lagi terkait kemampuan motorik dan sosial Rasikha.

Merasa telah mendapatkan gambaran tentang kondisi Rasikha, dr. Lucy kemudian meminta membangunkan Rasikha dan merebahkannya di kasur. Rasikha yang sudah puas tidur, Alhamdulillah, sudah nyaman untuk diajak bermain.

Dr. Lucy menyapa Rasikha, ‘Hai, sudah besar ya kamu. Wah.. senyumnya cantik. Pasti sering diajak ngobrol ya kamu Dek’. Ahai.. ternyata bayi yang sering diajak ngobrol bisa terlihat ya. Padahal kami tidak memberi informasi itu kepada dr. Lucy sebelumnya.

Dr. Lucy melanjutkan mengobservasi Rasikha. ‘Wah.. hebat ya kamu Dek.. sudah pintar kemut jempol kaki.. Duuuh… main jempol terus deh.. pamer nih yaaa’. Saat bilang begitu, dr. Lucy nampak kaget sekali. Beliau tidak menyangka bahwa perkembangan Rasikha sudah sejauh ini.

Dr. Lucy lalu melanjutkan observasinya dengan meminta Rasikha bermain di lantai empuk untuk melihat kemampuan menggenggam, tengkurep, dan respon sosial Rasikha.

Setelah sekitar 20 menit mengobservasi Rasikha, dr. Lucy menyampaikan bahwa perkembangan motorik dan sosial Rasikha ternyata baik. Tidak tertinggal dari bayi seusianya (usia koreksi tentu saja). Malah bisa dibilang sangat baik, mengingat Rasikha punya faktor resiko perkembangan terlambat berat. Hanya sedikit saja yang harus distimulasi dan lebih sering dilatih, yaitu melipat lutut dan pahanya, agar Rasikha punya skill dasar untuk mulai belajar mengangkat pantatnya saat tengkurep, karena ini skill dasar untuk kemampuan motorik berikutnya, yaitu merangkak dan duduk.

Alhamdulillah. Rasanya bahagia sekali mendengar penjelasan dr. Lucy. Terima kasih ya Rabb. Semoga Engkau berkenan untuk terus menjaga Rasikha.

img-20160921-wa0006

 

Posted in Kids and Family | Tagged , , , | Leave a comment

Rasikha, Steril atau Imun?

Berbeda dengan kebanyakan bayi lain, Rasikha tidak divaksinasi ketika lahir. Betul. Karena syarat vaksinasi harus dilakukan pada bayi sehat dan cukup berat. Vaksinasi pertama Rasikha adalah di usia 2,5 bulan ketika beratnya sekitar 2,5 kg.

Kali pertama dan kedua Rasikha vaksinasi, saya hanya mengikuti saran DSA aja. Tapi selanjutnya, kami memutuskan sendiri bahwa kami memang perlu memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Pro dan kontra seputar vaksinasi terus berkembang. Tidak hanya di dunia, tapi juga di Indonesia. Namun setelah saya mereview beberapa bahan bacaan, saya menyimpulkan bahwa informasi seputar kontra vaksinasi memiliki tendensi untuk penjualan obat dan atau pengobatan alternatif, namun dengan cara mengkampanyekan anti vaksinasi melalui penyebaran tulisan yang: 1) bias karena hanya diambil sebagian dari sumber publikasi sebenarnya, 2) salah pengalihbahasaannya dari sumber publikasi sebenarnya, 3) pembohongan publik karena mencantumkan quote dari nama ahli yang fiktif, 4) mempersoalkan keharaman vaksin.

Mudah sekali mencari tulisan2 kontra imunisasi. Sehingga pada awalnya, saya pun ragu untuk melanjutkan vaksinasi Rasikha. Namun syukurlah, saya bertemu dengan tulisan-tulisan terpercaya yang gak hanya copy paste aja, dan tanpa tendensi apapun kecuali mengupayakan memberi yang terbaik untuk anaknya dan untuk anak Indonesia.

Berikut beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  1. Fungsi vaksinasi adalah memasukkan virus atau bakteri (kuman) yang dilemahkan ke dalam tubuh agar tubuh mengenali data kuman tersebut lalu membangun sistem perlawanan berupa antibodi yang siap mengenali dan melawan kuman serupa di kemudian hari. Jadi, vaksinasi menjadi semacam training atau sarana berlatih bagi tubuh untuk melawan kuman serupa yang sebenarnya (bukan kuman yang dilemahkan).
  2. Vaksi
  3. nasi adalah imunisasi yang disengaja. Tanpa vaksinasi pun, tubuh memang dapat membangun sistem perlawanan. Yaitu ketika terkena serangan kuman yang sebenarnya. Jika tubuh berhasil membangun sistem perlawanan dengan membentuk antibodi, maka itulah imunisasi alamiah. Bedanya, resiko menjadi lebih tinggi, beban perlawanan menjadi lebih berat, karena tubuh berhadapan langsung dengan kuman berkekuatan sebenarnya.
  4. Dengan vaksinasi, bukan berarti tidak akan terjangkit penyakit, namun resiko atas terjangkitnya penyakit menjadi jauh lebih ringan.
  5. Kegagalan vaksinasi benar dapat terjadi, namun data statistik menunjukkan bahwa angka kegagalan sangat sedikit, jauh sekali dibandingkan dengan jumlah individu yang terjaga oleh vaksinasi.
  6. Vaksinasi + gaya hidup sehat saling melengkapi. Tapi gaya hidup sehat tidak bisa menggantikan fungsi vaksinasi sebagaimana pada butir 1.
  7. Benar bahwa seseorang bisa tetap tidak terinfeksi kuman walaupun tidak divaksinasi, tapi hal itu bukan hanya dipengaruhi oleh kekebalan tubuhnya sendiri, namun juga dipengaruhi oleh herd immunity atau imunitas komunitas. Herd immunity adalah imunitas yang terbentuk saat sebagian besar individu pada suatu komunitas telah divaksinasi sehingga memberikan perlindungan bagi individu yang tidak divaksinasi di komunitas itu. Googling deh soal herd immunity ini.
  8. Urusan halal dan haram karena proses produksi vaksin tertentu masih menggunakan bahan yang haram juga selalu menjadi perdebatan panjang.Berikut informasi yang saya dapatkan. Menurut fatwa MUI, vaksinasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, untuk mencegah terjadinya penyakit. Penggunaan vaksin yang mengandung atau bersinggungan dengan unsur yang diharamkan, maka hukumnya haram. Tetapi, keharamannya bukan pada tindakan vaksinasi, namun karena proses pembuatan atau kandungan vaksinnya. Dalam hal tidak atau belum ditemukannya vaksin yang halal, vaksin yang haram menjadi boleh untuk kebutuhan mendesak atau selama vaksin yang halal belum tersedia.

Ramainya pro dan kontra vaksinasi tidak membuat saya mengagungkan vaksinasi, karena memang vaksinasi tetap mempunyai manfaat dan bahaya (dengan tingkat bahaya individu yang relatif sangat kecil). Namun sungguh sangat disayangkan jika karena informasi yang sangat meyakinkan namun nggak valid, banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anak2nya.

Saya bukan dokter, bukan juga yang sungguh paham soal agama, tapi dengan mengumpulkan informasi dan menimbang manfaat dan bahaya vaksinasi, maka saya memutuskan untuk memberikan vaksinasi bagi anak2 saya. Setidaknya, begitulah upaya saya sebelum mengambil keputusan.

Ya, semakin banyak Ibu yang memutuskan untuk tidak memberikan vaksinasi bagi anaknya, maka semakin penting bagi saya memberikan vaksinasi bagi Rasikha.

Jadi, memilih steril atau imun? Saya jelas memilih imun, karena kondisi tidak selalu ideal.

Beberapa bahan bacaan seputar vaksinasi yang menarik:

21 Februari 2013

Posted in Kids and Family | Tagged , , , , | Leave a comment